Labels

Tentang PAKEM ...

PAKEM =  Pembelajaran yang Mengasyikkan,
Mencerdaskan, dan Menguatkan

PAKEM merupakan sebuah akronim dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, mulai populer sejak 1999/2000. PAKEM merupakan manifestasi proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas, baik dilihat dari sudut guru maupun siswa. PAKEM adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak yang dibangun atas dasar teori tentang sekolah dan pembelajaran yang efektif.  
PAKEM ditandai dengan beberapa ciri yang umum, yaitu pembelajaran harus aktif, dimana guru harus menciptakan suasana agar siswa aktif bertanya dan mengemukakan gagasan, sebagai bekal berpikir kritis yang dibutuhkan dalam kehidupan demokrasi. Pembelajaran juga harus kreatif, dimana guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan, minat, kesiapan, dan karakteristik siswa. Materi dimulai dari yang kongkret menuju ke yang konseptual/abstrak, dan dari lingkungan yang dekat berkembang ke lingkungan yang lebih luas.
Melalui  PAKEM diharapkan siswa aktif mengungkapkan gagasan dan menghasilkan temuan, pemahaman dan penguasaan kecakapan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran telah efektif. Salah satu indikasi bahwa suasana pembelajaran menyenangkan adalah adanya perhatian siswa secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar.
Indikator lain yang mendukung terwujudnya PAKEM adalah siswa merasa senang untuk belajar yang ditandai dengan keberanian siswa mengungkapkan pendapat, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, berani mencoba.  Kondisi siswa yang demikian harus diimbangi dengan perhatian yang tinggi dari guru pada siswa, melalui motivasi, apresiasi, dan penghargaan (reward) yang sesuai sehingga siswa merasa senang dan betah lama-lama di dalam kelas.
Sudah saatnya para guru untuk selalu mengemas pembelajarannya dengan konsep pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan menurut Dewi Utama Faizah dalam bukunya Belajar Mengajar yang Menyenangkan (2003:8) adalah terkait dengan aspek afektif (perasaan). Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru harus bersikap ramah, suka tersenyum, berkomunikasi dengan santun dan patut, adil terhadap semua siswa, serta sabar. Walaupun KTSP disusun dengan melibatkan semua unsur pendidikan, jika diimplementasikan oleh guru yang diskriminatif, maka hasilnya tidak akan maksimal. Kondisi ini dapat mengakibatkan minat, bakat, dan potensi siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Siswa akan merasa tertekan yang pada akhirnya mereka akan mengalami luka psikologis.
Guru masa kini sudah seharusnya meninggalkan pola-pola lama yang membelenggu kreativitas siswa. Sebab siswa masa kini membutuhkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan akan mendorong siswa untuk berimprovisasi dalam pembelajarannya. Mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk bisa mengembangkan potensinya. Di tangan guru yang tidak diskriminatif itulah maka potensi anak-anak kita akan berkembang secara optimal.
Guru harus mengkondisikan pembelajaran yang mengasyikkan,mencerdaskan, dan menguatkan. Mengasyikkan terkait dengan perilaku (Learning to do). Guru hendaknya dapat mengundang dan melibatkan anak pada suatu kegiatan pembelajaran yang disukai dan menantang sehingga mereka asyik. Untuk itu guru mesti dapat menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang kreatif melalui tema menarik yang dekat dengan kehidupan anak. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus-menerus dengan baik oleh guru.
Pembelajaran yang mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga terkait dengan “kecerdasan beragam” (Multiple intelligences). Untuk itu perlu dipilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dan fundamen pendidikan kecakapan hidup (General life skill) yang tengah bergulir saat ini dalam dunia pendidikan kita.
Pembelajaran yang menguatkan terkait dengan proses menyenangkan, mengasyikkan, dan mencerdaskan. Jika anak senang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga “mekarnya kepribadian anak.” Inilah yang akan menguatkan mereka sebagai individu pembelajar. Anak-anak yang memiliki pribadi yang kuat inilah yang sedang diharapkan bangsa kita dapat keluar dari berbagai kemelut multidimensi dan dapat menyongsong era globalisasi.
Oleh karena itu maka pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan, dan menguatkan merupakan sebuah solusi menuju peningkatan mutu pembelajaran. Apapun kurikulumnya apabila dilaksanakan oleh guru yang memiliki konsep yang benar tentang pembelajaran yang menyenangkan, maka hasilnya sangat signifikan.
Berdasarkan uraian di atas, kita optimis bahwa bila pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan kaidah PAKEM, maka prestasi siswa meningkat. Apabila hal ini berlangsung di tiap ruang kelas, secara perlahan dan pasti PAKEM bukanlah suatu yang asing, bahkan akan melekat dan menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar. Semoga.

Daftar Pustaka
Dewi Utama Faizah. 2003. Belajar Mengajar yang Menyenangkan. Jakarta
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

0 komentar:

Poskan Komentar

Info Lainnya

Entri Populer