PENGGUNAAN ICT DALAM PEMBELAJARAN DI
SEKOLAH DASAR
Definisi e-Learning Elektronik
atau belajar dengan bantuan komputer sudah ada sejak 70-an. Dengan menggunakan
monitor layar hijau melalui sebuah komputer berukuran besar (mainframe)
berkecepatan rendah. Apakah metode tersebut dapat dikatakan sebagai e-Learning.
Tentu saja hal tersebut bukan merupakan jawaban yang tepat mengenai e-Learning.
Tanpa definisi yang jelas sangatlah sulit memutuskan benar atau tidak suatu
pemanfaatan elektronik disebut sebagai e-Learning. Berbagai pendapat
dikemukakan untuk dapat mendefinisikan e-Learning secara tepat.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Landasan filosofi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal. Peserta didik harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak peserta didik sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
Proklamasi Kemerdekaan, yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus, adalah sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia . Proklamasi, telah mengubah perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan. Merdeka dari segala bentuk penjajahan.
Bagaimanakah sesungguhnya, peristiwa yang terjadi 66 tahun yang lalu itu. Mari kita buka kembali catatan sejarah sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Catatan Sejarah :
Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.
Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang mendorong mereka melakukan “aksi penculikan” terhadap diri Soekarno-Hatta (lihat Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81)
Kemampuan berbahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa. Kemampuan itu terlihat di dalam empat aspek keterampilan. Keempat aspek itu adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Menulis termasuk aspek kegiatan berbahasa yang dianggap sulit. Namun demikian, Menulis seperti halnya kegiatan berbahasa lainnya, merupakan keterampilan. Setiap keterampilan hanya akan diperoleh melalui berlatih. Berlatih secara sistematis, terus-menerus, dan penuh disiplin merupakan resep yang selalu disarankan oleh praktisi untuk dapat atau terampil menulis. Tentu saja bekal untuk berlatih bukan hanya sekedar kemauan, tetapi juga ada bekal lain yang perlu dimiliki. Bekal lain itu adalah pengetahuan, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus ditempuh dalam kegiatan menulis. Jadi ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai ketrampilan menulis yakni pengetahuan tentang tulis-menulis dan berlatih untuk menulis
Bertanya dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu keterampilan operasional yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar proses belajar mengajar di kelas dipergunakan guru untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu pertanyaan, kesangsian dan keragu-raguan adalah sumber aktivitas mental ( Nasution,1986:162).
Pentingkah ketrampilan bertanya itu ?
Beberapa alasan mengapa keterampilan bertanya sangat penting dikembangkan oleh setiap guru, antara lain :
PAKEM merupakan sebuah akronim dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, mulai populer sejak 1999/2000. PAKEM merupakan manifestasi proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas, baik dilihat dari sudut guru maupun siswa. PAKEM adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak yang dibangun atas dasar teori tentang sekolah dan pembelajaran yang efektif.
Permendiknas Nomor 2 Tahun 2011 tentang Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional pada SD/MI dan SDLB tahun pelajaran 2010/2011, secara garis besar memuat tentang Secara garis besarnya, peraturan ini memuat tentang : Ketentuan Umum Ujian, Hak dan Persyaratan Peserta Ujian, Pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah, Pelaksanaan Ujian Nasional, Kelulusan Peserta Didik, Pelaporan, Biaya, dan Sanksi.
Terkait dengan peraturan Permendiknas tersebut dapat kita garis bawahi hal-hal sebagai berikut: